Mrs Bule: Marriage
Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Tuesday, 19 June 2018

My Miscarriage Story #storytime
00:471 Comments


(image source: Unsplash )

Aria lahir September 2016 dan sekitar Januari 2017, we found out that I was pregnant again. Kebayang dong gimana panik dan galaunya gue. Salah kita memang yang nggak langsung ikut program KB karena kita pikir itu kan baru lahiran banget dan onderdil gue masih acak adul. But well, things happened. Periode itu kita lagi tinggal di Jakarta jadi gue agak legowo karena masih dekat dengan keluarga. Walau jujur dalam hati sebenernya nggak rela banget karena gue nggak siap. Even Aria bukan bayi cerewet yang bisa buat mata gue dan Mamat berpanda ria but we got our hands full. Belum lagi gue yang masih harus banyak gendong Aria sana sini. Kita pun memutuskan untuk keep the baby walau Mamat sebenernya galau juga.

Singkat cerita, kita harus pindah ke Phnom Penh sekitar 1 minggu. Untungnya nggak lama karena honestly gue nggak mau raise my kids there. No offense. Setelah dari Phnom Penh, kita pindah lagi ke Manila. Ketidak siapan dan ketidak relaan gue buat hamil lagi tetap ada but they eased up. Mamat dan gue merasa optimis dari segi emosional dan finansial. Jeleknya, setelah balik merokok lagi setelah lahiran Aria, gue pun masih berlanjut. Bawaannya masih stres bok! (I know I'm not a perfect Mom). Gue pun masih minum wine karena waktu hamil Aria gue rajin nge-wine dan katanya red wine bagus buat pregnancy. Sekitar memasuki 3 bulan, gue pun berhenti merokok dan juga setelah dikecam keras sama Mamat.

Gue inget waktu itu 11 April 2017, kita kehilangan anak kedua. Satu minggu sebelumnya perut gue kram sepanjang minggu. Awalnya gue kira itu normal karena waktu hamil Aria dulu gue suka kram jadi gue cuma konsumsi pain killer. Tapi sakitnya masih belum hilang juga selama seminggu itu, juga nggak ada darah yang keluar selain cairan coklat lengket.

Jadi Kamis (6 April 2017) kita pergi ke dokter kandungan sama Aria. Ngomong-ngomong, dokternya perempuan dan masih muda karena Mamat nggak mau laki-laki lain to see my junk (lol!). Sebenernya itu dokter pengganti sih karena dokter yang gue booked lagi off. Anyway, setelah dokter nanya ini-itu, dia minta gue untuk berbaring di meja pemeriksaan. Dia bilang cervix-nya masih nutup yang artinya bagus dan nggak ada pendarahan tapi dia menyarankan untuk scan dan bedrest. Kita bahkan sempet denger detak jantungnya si baby and it bet so fast. Mamat dan gue excited banget, rasanya kayak pertama kali punya baby. Jadi dokter kasih resep untuk kram, vitamin dll. Dia ngasih gue :
Isoxilan Tab 10 mg;
Obimin Plus Cap;
Duphaston Tab 10 mg.
Kita langsung ambil di apotik dan langsung gue minum karena kram-nya udah nggak tertahankan banget. Terus kita pulang. 

Kita berencana untuk scan hari Senin tapi ternyata di Filipina lagi libur Holy Week jadi mereka nggak available yang artinya kita harus nunggu sampe minggu depan. Meski gue udah konsumsi obat, kram-nya masih nggak hilang jaid berasa buang-buang duit. Dan gue pun mulai pendarahan dan my water leaked.

11 April pagi, gue tiduran di kasur sambil main hp, gue nggak bisa tidur karena kram. Setiap kali gue bangun, selalu ada gumpalan besar keluar dari vagina. Jadi gue ke toilet dan gue merasa kayak ada gumpalan besar mau keluar. Gue berniat untuk simpan dan tunjukkin ke dokter (hasil nge-google sih menyarankan begitu) supaya mereka bisa meriksa. And there she was, right on my hand (on pad). Gue teriak dan manggil Mamat dan nangis bersamaan. 

Aseli gue histeris. Pikiran gue kosong. Gue nggak inget ngomong apa atau apa gue gemetaran. Pokoknya gue nggak inget. Gue nggak tahu berapa lama gue nangis. Gw nelfon Nyokap dengan histeris. Mamat coba menenangkan gue, dia bahkan nggak sempat bereaksi sendiri karena terlalu sibuk menenangkan gue dan juga jaga Aria. At that time, I felt like I would never stop crying.

Beberapa hari setelahnya gue pendarahan hebat dan sisanya keluar seperti plasenta dan lain lain. Perut gue masih kram sampai 10 hari berikutnya.

Harus gue akui, hati gue rasanya hancur banget karena gue melihatnya langsung, udah berbentuk human. Bayi gue baru berumur 13 minggu, tapi gue tahu kalo itu perempuan. I feel horrible because I feel guilty. Waktu tahu gue hamil, gue ketakutan. Terlalu awal dan gue baru melahirkan Aria 6 bulan yang lalu. Gue berharap gue nggak hamil.  Dan sekarang kejadian depan mata, sebagian diri gue merasa lega but then it hit me. As much as I said, "I'm not ready," I did want her. I really did. Betapa butanya gue nggak menyadari itu sampai akhirnya gue kehilangan anak itu. Gue rasanya malu banget karena kehilangan bayi itu dan gue merasa itu salah gue. Gue anggap miscarriage ini sebagai tanda kalau waktunya memang nggak tepat dan ini membawa gue dan suami gue menjadi lebih dekat karena kita berbagi tangis.

Sekarang gue uda ikhlas. Andai gue bisa menunjukkan betapa menyesalnya gue. Tuhan mungkin menguji gue dan Mamat dan lihat kita belum siap. Atau mungkin ada rencana lain. Seperti sekarang gue hamil lagi (Puji Tuhan!) dan
uda memasuki 32 minggu. Beberapa minggu lalu kita scan dan ternyata kita dapet baby girl lagi yang rencananya due date tanggal 22 Juli. Dan kali ini gue merasa lebih siap dari sebelumnya. Doakan ya.


Reading Time:

Thursday, 14 June 2018

Kenapa Suka Bule? #storytime
20:231 Comments

Bukan sekali doang gue ditanyain kenapa suka bule. Aduh, kalo ditanya gitu biasanya jawaban gue cuma, "Eh, nggak tahu ya. Abis beda sih." Setelah dipikir-pikir, jawabannya kok agak rasis juga yak.

Banyak wanita Indonesia yang memiliki pasangan orang asing, entah karena emang preferensinya begitu atau yah emang uda jodohnya. Ketemunya pun macem-macem, ada yang dari online maupun offline. Mamat dan gue ketemunya sih offline, nggak ada meet-cute atau apapun itu lah yang kata orang-orang. Menurut gue sih biasa aja, tapi kalo kata Mamat ada firework (ceileh!)

Karena sering ditanyain, gue pun akhirnya mulai mencari-cari apa akar awalnya gue bisa tertarik ama bule. Mamat emang bukan pacar bule pertama gue dan gue pun pernah kok pacaran dan tertarik sama orang Indonesia. 

Direct encounter pertama gue sama orang bule itu yang paling gue inget adalah waktu SMP. Jadi ceritanya gereja gue mengundang suami-istri missionaries dari Amerika yang ikut memboyong kedua anak cowok mereka selama seminggu ke Bengkulu. Namanya masih ABG belagu, waktu ngeliat mereka gue mikirnya, "Dih, keren nih gue kayaknya kalo gue bisa ngajak ngobrol mereka. Pasti pada sirik nih." (Haha!) Tapi serius itu yang ada di pikiran gue. Ujung-ujungnya gue malah baru berani waktu mereka udah mau balik lagi. Gue lupa ngomong apa tapi yang pasti belepotan banget Inggrisnya. Akhirnya gue bisa ajak ngobrol dan dapet alamat email-nya juga. Dih, bangga banget gue waktu itu, sempat juga email-emailan beberapa kali tapi that's it. Kalo diinget-inget kayaknya gue lebih mendekati stalker deh. Bawaannya kayak orang lagi jatuh cinta,lol! Dasar ABG labil!

Anyway, setelah dirunut-runut gue pun menyimpulkan kenapa gue bisa suka sama bule itu karena nyokap. Gimana nggak kalo gue dari kecil uda begadangan nonton film Steven Seagel, James Bond (jaman Pierce Brosnan tuh), Titanic, Indiana Jones dan film barat lainnya di RCTI. Ngeliat gimana heroik dan romantisnya para lelaki kulit putih itu, siapa yang nggak kesengsem. Walaupun tanpa direncanakan untuk nikah sama orang Inggris, gue selalu menganggap kalo aksen Inggris itu seksoy.

Memang sih ada banyak alasan lainnya kenapa gue suka bule tapi kalo ditanya awalnya kenapa, cuma ini yang bisa gue pikirkan. Pada akhirnya, yah, kalo jodoh nggak kemana, hehe.


Reading Time:

Tuesday, 12 June 2018

Istri Bekerja Atau Tidak?
22:051 Comments

Jujur kadang gue suka kangen kerja kantoran lagi. Dulu gue sempat jadi Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Walaupun tekanan dan work load nya berat apalagi mendekati waktu lapor pajak dan akhir tahun, gue menikmatinya. Bahkan sekarang gue suka kebayang-bayang buat Working Papers, kotak-katik Excel, grasak-grusuk dokumen dan sebagainya. Dulu gue selalu menganggap kerjaan Auditor ini kayak jadi detektif which is impian gue banget dari sejak suka baca seri Lima Sekawan-nya Enid Blyton.

Mamat pun sebenernya ngijinin kalau gue mau kerja biar gue juga bisa punya uang sendiri. Dia pun enggak menuntut gue harus bekerja atau enggak. Cuma yah biasalah kadang kalo lagi alot berantem suka kelepas omongan 'cari duit sendiri'. Biasanya omongan enggak enak gini keluar kalo dia lagi mumet, full of pressure terus gue mulai nagging minta ini-itu buat Aria, imunisasi dan lain-lain. Ini sih sebenernya bukan alesan utama kenapa gue mau kerja tapi secara engga langsung mempengaruhi keputusan gue buat mau cari uang sendiri. Well, you know...ego.

Tapi kalau pun gue kerja, gue enggak mau kerja kantoran atau yang bakal sering ninggalin anak apalagi anak masih kecil karena gw mau 'around' di saat anak gue bertumbuh. Jadi kalaupun mau ambil kerjaan, ya yang bisa dilakukan dari rumah. Nggak mesti kerja yang gaji gedelah, cukup untuk tambah-tambah uang jajan, toh Mamat masih mampu memenuhi kebutuhan kita.

Anyway, salah satu youtuber kesukaan gue Pita's Life pernah bahas soal suami yang penuhi kebutuhan keluarga dan istri (Pita) memilih bekerja untuk memenuhi keinginan dia sendiri, jadi nggak perlu minta-minta suami. Gue sih setuju begini. Dulu pernah random talk ama sepupu gue yang sudah menikah dan intinya, 'uang suami, uang istri. Uang istri, ya uang istri.' Waktu itu sih kita ketawa aja tapi kalo sekarang gue pikir-pikir kok egois ya? Emang sih enak buat si istri jadi kalau mau beli apa-apa jadi bebas walau mungkin kalo mau beli sesuatu yang signifikan masih ijin suami dulu. Terus bukannya uang si istri jadi untuk belanja-belinji juga, gue pribadi masih ada simpanan duit sendiri yang gue pisahin dari Mamat. Selain itu juga misalnya gue bisa beli barang yang gue mau seperti handphone terus suami nggak bisa ambil balik hp itu kalo lagi berantem dengan alesan 'kan gue yang beli' (curcol, lol!)

Jadi intinya istri memilih bekerja untuk mengaktualisasikan dirinya atau memberi value pada dirinya sendiri dan dia bisa bangga dengan dirinya sendiri juga.

Nah, kalau memotivasi diri dengan bisa beli barang yang kita mau dari uang sendiri, ending-nya ini jadi drive istri untuk semangat cari uang atau malah jadi nggak bakal punya apa-apa (I mean like shopping spree) ? Kalo dalam kasus gue sih malah bisa berakhir enggak kesampaian buat beli buku-buku incaran gue dong. Jadi blessing or curse nih?

Anyway, kalo udah punya penghasilan sendiri, ikut bantu memenuhi kebutuhan keluarga juga nggak? Gue sih nggak masalah ya, justru bangga karena seriously kebutuhan keluarga apalagi kalo udah punya anak itu enggak ada habis-habisnya. Beneran deh.

So the point is istri bekerja itu bagus asal jangan sampai ngelunjak terus belagu sampai step on hubby's head juga. Durhaka itu mah.


Reading Time:

Tuesday, 15 May 2018

Raising Kid Without Nanny #Anak1
18:02 2 Comments

Salut deh sama ibu-ibu yang bisa sampai urus empat anak tanpa bantuan Nanny dan sambil bekerja pula. Itu gimana ya kok bisa dan nggak gila? Gw baru punya anak satu aja kadang rasanya mau nyerah pake Nanny. Apalagi tinggal jauh dari keluarga yang nggak bisa curi-curi buat nitip. Selama ini kita pake Nanny baru satu kali dan nggak sampai 2 bulan. Itupun part time karena gw juga harus kerja part time. At that time, Aria baru sekitar 6 bulanan kalo nggak salah dan masih belum kenal orang.

Sekarang sih udah nggak pake Nanny lagi dan gw urus Aria full time. Kadang kalo Aria lagi riweh-riwehnya terus nggak mau tidur siang, gw jadi frustasi sendiri dan akhirnya malah jadi upset. Abis itu mulai deh meratapi diri sendiri kayak 'me-time gw mana??', 'gw pengen break' ,de el el, de es be. Eh, sudah itu jadi ngerasa bersalah sendiri. Kalo udah begini, gw ambil step back terus coba nyemangatin diri sendiri kayak "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian", atau reconsider kalo mau pake jasa Nanny.

Nyokap selalu mewanti-wanti gw untuk nggak nitipin Aria ke sembarang orang. Pokoknya selalu bilang jangan dan suka banget kasih gw cerita-cerita atau video seram soal perlakuan pembantu sama anak asuhnya. Mamat paling males dan anti banget denger cerita-cerita beginian. Maksudnya males karena nggak mau ngedengerin. Anyway, sebagai seorang Ibu yang baik (ceileh!), yang jelas gw ikutan jadi parno lah. Bukannya berarti gw gampang dipengaruhin atau ditakut-takutin tapi gw nggak mau menyesal di kemudian hari. Amit-amit dah. Walaupun sebenernya gw gak rela kalo Aria dititipin ke orang lain, kalau suatu saat nanti gw memutuskan pake Nanny atau nitipin Aria, at least waktu Aria udah bisa ngomong lancar jadi bisa mengadu kalo ada apa-apa.

Untuk soal Nanny, Mamat untungnya nggak pernah nuntut macem-macem untuk pake Nanny atau nggak. Dia menyerahkan semua keputusan di tangan gw dan support 100% mana yang gw anggap baik. Palingan kalo dia ragu atau worried about something, dia baru bilang ke gw.

Jadi, intinya sih selama gw masih merasa mampu untuk nggak pake Nanny dan belum ada kesibukan yang menyita waktu banget, gw merasa nggak perlu pake Nanny. Besides, nanti juga kan ada waktunya Aria mulai masuk sekolah dan mungkin akhirnya gw bisa punya sedikit me-time. *OMG, masih berapa tahun lagi itu????*



Reading Time:

Monday, 14 May 2018

About You & Me
01:290 Comments

How do you see youself and your partner in a relationship or a marriage? As an equal or one is higher than the other? Apa kedudukan pria lebih tinggi hanya karena ia yang mencari nafkah dan memberi atap di atas kepala? Apa kedudukan wanita lebih tinggi hanya karena ia yang bertanggungjawab mengurus rumah dan menghadapi semua tangis, kerewelan dan juga tawa anak? Tapi bagaimana kalau posisinya dibalik?

Gw lebih memilih untuk melihat posisi kita itu equal karena menurut gw masing-masing memiliki peranan dan tanggungjawab yang penting dalam suatu hubungan. Dalam konteks ini maksud gw adalah dalam keluarga. Nyatanya, dalam praktek nggak gitu coy! Mungkin karena ego masing-masing yang masih mementingkan egonya sendiri atau karena menganggap perannya lebih penting dari pasangannya. Nah, ini yang menurut gw bahaya kalo nggak segera ditindaklanjuti. Selama kita belum melepaskan ego pribadi, kita akan berakhir terus menuntut kepada pasangan kita. Ini yang gw pelajari dari nyokap gw. Ada benernya juga sih. Kenyataannya teori lebih mudah daripada praktek bahkan nyokap pun yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah masih suka susah untuk mempraktekannya. Moreover, setiap gw berantem ama Mamat, gw selalu mencoba untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak menuntut.

Anyway, persoalan tuntutan ego yang merasa dirinya melakukan peran lebih penting dalam pernikahan gw ini merembet kemana-mana. Dari soal keuangan, soal 'hak gw' dan 'suka-suka gw'! Seperti sekarang, Mamat merasa dirinya berhak untuk keluar nongkrong sama temen-temennya karena dia sudah bekerja dan butuh refreshing. Waktu awal-awal, ini selalu jadi bahan berantem kita tiap minggu. Emang sih dulu dia rajin bawa gw kemana-mana tapi semenjak hamil Aria, mana bisa lagi gw ikut-ikut nonkrong sampai subuh. Nah, berantemnya kita karena gw menuntut dia untuk tinggal di rumah dan menemani gw. Mamat dan kaki gatelnya mana bisa dikekang begitu. Akhirnya gw mengalah untuk kasih dia keluar sekali-sekali dan mencoba mengerti kalo dia butuh social life juga. Kebetulan semenjak hamil, gw jadi tipe rumahan yang betah aja di rumah asalkan ada internet ama buku.

Soal 'hak gw' dan 'suka-suka gw' ini emang pasti berhubungan dengan soal keuangan. Karena dia yang kerja, jadi kalo dia lagi mabok 'ini uang gw' terus kalo lagi sober 'ini uang kita'. Yang beginian nih yang buat keki.

Jujur gw akui kalo posisinya dibalik dengan gw yang jadi alpha wife dan dia jadi Bapak Rumah Tangga, gw pasti akan menuntut lebih. Gw mungkin akan merasa gw yang lebih 'tinggi' dari dia dan juga mungkin akan melihat dia lebih 'rendah'. Kedengerannya jahat banget ya tapi inilah yang namanya ego. Who knows selama ini dia juga berpikir begitu tentang gw. Tapi semoga enggak ya. Sejauh ini sih dia nggak pernah ngomong gitu ke gw tapi kadang setan-setan kecil suka ngedorong gw buat mikir yang negatif.

Pada akhirnya, siapa sih yang mau punya hubungan macam itu? Pasti nggak ada. Tapi nyatanya hasil curhat sama temen-temen lain, ada juga loh yang begitu. Hopefully ini cuma karena pernikahan yang masih berumur jagung aja. Seiring dengan berjalan waktu dan semakin lama menikah, semoga lama kelamaan bisa melepas ego masing-masing. Kan katanya gitu, pernikahan adalah proses pembelajaran yang sangat panjang. Tinggal kitanya aja yang harus kuat dan mau belajar along the way.

As a reminder, semoga nggak clash. Post ini aseli bukan berniat untuk menggurui. Ini random thoughts gw dan mau gw jadiin pengingat buat diri gw sendiri. Syukur-syukur bisa bantu saling menguatkan bagi pembaca yang mungkin juga mengalami hal yang sama.


Reading Time:

Thursday, 3 May 2018

Nekat Fed atau Lazy Fed?
01:28 2 Comments

Kalo mau ngomongin soal makanan anak nih sebenernya susah-susah gampang. Waktu awal-awal Aria mulai beralih ke makanan keras, senjata andalan gue sama Mamat ya sereal bayi instan (*tutup mata*), pisang kerok atau Heinz. Terus mulai beralih ke rebus-rebusan dan mashed-mashed an seperti kentang, wortel dan brokoli. Bahkan sampai sekarang pun itu tetap menjadi comfort food-nya Aria.

Sebagai ibu baru yang bawaannya masih suka parnoan, kadang setiap mau ngasih coba makanan baru, gue takut-takut kalo dia alergi atau pup-nya jadi keras atau takut perutnya belum kuat. Sementara gue banyak deg-degannya, bapaknya justru termasuk nekat karena dia super excited. Apalagi setelah Aria lewat 1 tahun, Mamat pun jadi lebih berani. Dari pizza, burger, pokoknya apapun yang dimakan Bapak-nya pasti dikasi coba juga sama anaknya. Dan dua bule ini ternyata punya selera yang sama.

Dulu kadang gue suka keabisan ide mau masak atau kasih makan apa ke Aria. Alhasil Aria pun jadi bayi vegetarian, hehe. Awal-awal melewati umur 1 tahun, gue mulai memberi sup jagung, sup labu kuning, jamur rebus dan telur rebus. Walaupun sedikit ada varian, tetap rasanya masih ada yang kurang. Gue sudah banyak googling untuk  cari inspirasi dan sebagainya tapi kok tetap berasa nggak cocok. Selain itu, dulu Mamat juga sempat membatasi nggak mau ngasih Aria makan nasi, katanya sih biar perutnya nggak buncit kayak anak Asia lainnya (dasar rasis emang!), tapi toh tetep dikasih kentang jadi itu perut tetap buncit juga.

Anyway, bersyukur banget sekarang Aria sudah rada gedean dan so far dia nggak pernah alergi atau sakit-sakit karena makanan. Sekarang gue juga sudah lebih santai dan nggak deg-degan mau ngasih dia makan apa. Justru kemarin pas pulang ke Indo, Aria kita kasih coba lontong ama kuah sate Padang, sedikit nasi sama sambal dendeng, sup buntut bahkan dia doyan bumbu rendang. Kepedesan pun nggak! Tenang, kita bukan orang tua gila kok yang ngasih dia makan sampe seporsi orang dewasa, palingan cuma 3 atau 4 suap cukup untuk Aria tes rasa.

Sekarang setiap kita makan, Aria selalu ikut minta-minta makan. Ini gue jadikan pertanda alami kalau dia udah boleh makan-makanan orang dewasa (emang suka-suka lu lah, Mak!). Di umurnya yang baru 18 bulan ini, gue nggak tahu apa itu terlalu dini. Kalau hasil Google, para orang tua responnya macem-macem. Tapi kalo gue liat-liat dari baca blog luar, kebanyakan mereka lebih cuek dan anaknya udah ikut makanan orang tua (yang tetap masih aman untuk anak) sejak mereka umur 9 bulan. Sementara kalo baca cerita ibu-ibu di Indonesia, itu lebih telaten dan rajin untuk masak khusus anak sampai mereka umur 2 tahun.

Oh well, gue bukan super Mom sih jadi gue jalanin aja sesuai dengan apa yang gue anggap baik. Paling sering cek cok dikit ama Mamat kalau nekatnya kumat. Dan untunglah kita punya anak yang tahan banting. Oh iya, belakangan gue lagi rajin masak pasta ala-ala bolognaise gitu untuk Aria dan Mamat. Untunglah mereka doyan dan nggak cerewet.

At last, being a mom is about learning by process, right?


Reading Time:

Monday, 30 April 2018

(18+) Diperkosa Suami Sendiri?
18:16 2 Comments

WARNING: This topic is too open and this is my own opinion. Stay peace if you disagree!

Aduh, judulnya seram amat! Tenang, ini bukan curhatan seram tipe-tipe yang ada di majalah wanita itu kok.

Baru-baru ini gue baca buku yang katanya seksualitas wanita itu kayak musim. Ada musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Sementara kalo pria, musim panas terus. Anggap gue kolot tapi gue masih termasuk orang yang menganggap kewajiban seorang istri itu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani suami.

Every weekend, as some of you might know, laki gue itu suka minum-minum. Nah, belakangan semenjak hamil gue sensitif banget dengan bau alkohol dan bau rokok. Suka eneg-eneg gitu. Mamat pun tahu kalo dia bau alkohol, gue pasti nggak mau intimate and he understands it. Buat yang belum tahu (bersyukurlah kalian!) bau alkohol itu paling parah the day after. Maksud gue bau alkohol dari bau badan dan bau nafasnya. Belum lagi sekujur badan dan rambut yang bau rokok. Apesnya, the day after itu juga waktu dimana dia di tingkat tinggi horny-nya. Gue nggak tahu apa ini Mamat doang atau lelaki lain juga begitu. Di saat-saat seperti inilah gue jadi serba salah. Kalo dipaksa gue yang eneg, kalo nggak kasian ama laki gue disuruh kawin sama tangan (ups!). Anyway, most of the time I was saved (thanks to Aria) but also there was some times that I was not.

Memasuki trimester kedua kehamilan, jujur libido gue menurun. Hilang nafsu, istilahnya. Mungkin bawaan hamil dan hormon atau karena kondisi kita juga yang sering berantem, I dont know. Nah, yang kasihan ini si Mamat. Daripada (amit-amit jabang bayi) dia jajan di luar, gue pun harus mengalah karena itu pun sudah jadi kewajiban gue. Tubuh gue sudah bukan milik gue sendiri tapi hak suami gue. Untungnya, walaupun tengil-tengil begitu, si Mamat menghormati gue. He never force himself on me.

Ketika gue mengalah dan tetap mau intim biar nggak mengecewakan suami, padahal gue sendiri pun nggak menikmatinya, sempat terbersit di pikiran gue, "Apa ini rasanya diperkosa?" Tapi gue segera menepis pikiran itu because that kind of thought was so disturbing. Dan tahu nggak? Pada akhirnya, gue nggak menyesal karena mengalah. Especially after see his happy face. Yes I did not enjoy it but he is my husband. Not just some random stranger.

Kesimpulannya, menurut gue nggak ada istilah diperkosa suami sendiri. Gue nggak tahu bagaimana kehidupan seks pasangan lainnya tapi menurut gue, suami punya hak atas istrinya. BUT, bukan berarti si suami bisa seenaknya dan sampai melanggar batas ya. Gue bukan ahli dalam pernikahan atau relationship, wong nikah aja baru 2 tahunan. Tapi "batas" itu sendiri ya urusan pasangan masing-masing. Sampai semanakah pasutri menarik garis batas.

Kalo ada yang mau komentar tapi nggak mau di-publish atau ada yang mau curhat, boleh kok email gue di mrsbulee(at)gmail.com


Reading Time:
#lifeupdate Part 1
04:24 2 Comments

Hola! Maaf sudah menghilang belakangan ini. Padahal niatnya mau stick ama blogs's schedule (hiks!). Tapi apa daya, a lot of things going on.

So...the bottom line is we move to Penang now! We are not sure how long we are gonna be here for but of course we hope we can stay for a long time atau paling nggak sampai gue lahiran. Sayangnya, karena satu dan lain hal, gue dan Aria nyangkut di sini dengan visa turis (30 hari). Jadi antara kita harus visa run setelah 30 hari itu atau liat gimana nantinya deh. Ini nih yang buat gue sebenernya hesitate untuk pindah ke Malaysia. Mamat sih enak, pake visa turis aja dia bisa dapet 3 bulan gratis. Oh, paspor hijauku!

Sejauh ini perasaannya gimana? Mmm...campur aduk sih. Kita ditempatkan di apartemen yang juga sekaligus hotel. Jadi ada weekly cleaning service (yaiy!). Apartemennya juga terletak di atas mal lama gitu jadi kalo turun lift ke lantai LG-nya bisa langsung ke Supermarket dan bisa bawa-bawa trolley ampe ke unit apartemen gue (haha). Udiknya gue, di apartemen ada Dryer buat cucian. Yup, ini pertama kalinya gue pake dryer hahaha. Mamat ampe ngakak ngeliat gue amazed banget ama dryer doang. Apartemennya juga enak dan bersih banget. Tempatnya strategis dan di bawah ada restoran Jepang. Bisa nyushi terus nih gue!

Nggak enaknya adalah karena apartemennya juga bisa disewakan buat jadi hotel jadi kesan homey-nya nggak berasa. Rasa-rasanya kayak liburan. Kita juga dapet 2 queen size beds jadi mungkin ini saatnya menyapih tidur Aria. Hm, let's see.

Perkara lainnya adalah soal makanan. Iya gue tau, gue terlalu cerewet. Tapi abis gimana dong??? Bingung mau masak apa. Kita mesti harus beli rice cooker terus entah nantinya mau beli ulekan atau nggak. Enaknya, di supermarket bawah ada kecap manis ABC ama Mie Sedap (hoho). Kayaknya emang gue harus beradaptasi dan gak bisa 'manja' gitu. Oh iya, kali ini nggak ada drama susu formula haha. Kita balik ke susu lama Aria yang kalo disini namanya Enfagrow A+ Langkah 3. Harganya sekitar 55 RM untuk 600 gram.

Anyway, gue mungkin terlihat excited tapi sejujurnya gue khawatir. Gw takut Mamat bakal sering ninggalin gue dan Aria di rumah dan kelayapan. Apalagi ini gue di negeri orang. Tapi sebelum berangkat ke Penang, gue uda menetapkan hati kalo gue nggak mau ambil pusing dan buat stres soal itu. Yang penting gue banyak-banyak doa aja dan fokus ama ngurusin anak ama suami. Kali ini gue harus belajar banyak sabar dan mengalah. 

Well, here we go. New adventure begins. All I know is we're gonna be alright as long as we're together.


Reading Time:

Monday, 16 April 2018

Sharing House Works With Mamat
01:42 4 Comments


Happy Monday, dear Readers! Weekend kemarin pada ngapain? Semingguan kemarin gue suntuk banget di rumah dan kaki sudah gatel banget mau keluar. Akhirnya Sabtu kemarin gue main di Kota Kasablanka dari jam setengah 12 siang sampe jam 9 malam (juara!). Kali ini bawa Aria kok.

Anyway, this time gue mau sharing soal pembagian kerja di rumah. Adilnya sih suami kerja, dan istri urus rumah. Ya nggak? Gue pribadi sih selalu mengusahakan rumah tidy kalau Mamat pulang kerja karena gue tahu gimana mumet dan bad mood nya pulang ke rumah yang acak adut setelah seharian stress di kantor. Jadi biar Mamat ngga stress dan cranky, that’s the least thing I could do for him.

Untuk urusan makanan, untungnya gue nggak perlu ribet nyiapin. Soalnya kalo gue masak pun, which is masakan Indo, dia nggak bakal makan dan akhirnya malah delivery atau makan mi instan biar gak ribet. Sebenernya dimana kita tinggal, berbeda juga treatment-nya. Gue kasih contoh:
  • Manila : Gue tinggal rebusin kentang ama wortelnya waktu deket-deket jam dia mau pulang, dan nanti Mamat sendiri yang masak pork steak-nya. Kalo ini gue ngga bisa masaknya karena Mamat punya tingkat kematangan sendiri. Dia pun gak bakal bosen makan ini tiap malam. Iya, laki gue itu creature of habit deh pokoknya.
  • Thailand : Mamat yang masak untuk kita karena dia emang lebih banyak waktu di rumah dan kita biasanya makan Babi panggang/pumpkin/kentang/wortel pake gravy (ini emang enak banget!). Jadi Mamat tinggal cemplungin semua di oven dan tunggu 1 jam. Kalau ini emang dia yang doyan dan semangat banget masaknya. Atau kadang gue masak opor ayam/rendang atau curry.
  • Jakarta : Delivery! Ojek online delivery ini favorit kita semua. Gue pun emang udah niat nggak mau masak sebulan kalo uda balik Indo. Kangeeeen. Mamat biasanya pesen Pizza atau Makanan Padang (si Tuan ini juga doyan Dendeng Batokok!).


Balik ke topik deh, kok ini jadi bahas makanan. Untuk urusan pekerjaan rumah, intinya sih tetap tanggungjawab gue. Tapi gue bersyukur kalau Mamat masih mau ikut bantuin. Kalau dia masuk kantor dan pulang malem, dia pasti tepar dan udah nggak bisa ngapa-ngapain (kecuali urusan makanan). Beda kalo weekend, mostly emang kita di luar tapi kalo udah hari Minggu dimana kita mau istirahat dan persiapan untuk Senin-nya (udah keabisan duit juga sih mau keluar). Atau kita grocery shopping, Mamat pasti ikut bantu-bantu ngerapiin barang hasil barang belanjaan dan beberesan.

Terakhir di Thailand, Mamat sempat kerja dari rumah sekitar 8 bulanan dan rumah selalu berantakan. I don’t know why tapi kalo Mamat di rumah, gue malah bawaannya males. Mungkin karena ngga ada deadline-nya. Kalo Mamat ngantor kan, deadline-nya waktu dia pulang kantor ya. Memang sih masih tetap beberesan (I’m not that lazy loh!) atau nyapu setiap hari tapi again punya toddler seumuran dan seaktif Aria, nggak ngefek juga. Untungnya Mamat ngerti dan kadang nyapu lagi kalo dia ngerasa berantakan banget sementara I got my hands full. Mamat juga yang rajin masak termasuk untuk makan Aria (this is exciting him so much, btw) dan gue yang bagian cuci piring. Atau kadang kalo ada sesuatu yang mau dia selesaikan saat itu juga, dia yang kerjain sendiri. Sementara bagian gue selalu yang bersihin dapur sebelum tidur. Kalo ini wajib hukumnya buat gue, karena gue bakal cranky banget seharian kalo bangun pagi mau buat sarapan dan itu dapur udah kayak kapal pecah. Gue juga nyapu dan ngepel setiap pagi terus nanti Mamat yang rapiin mainan Aria waktu si Nona tidur. Duh, pokoknya kalo di Thailand enak banget deh. Gue sangat terbantu.

Semenjak balik ke Jakarta, gue nggak pernah ngeliat Mamat megang sapu (btw, akhirnya kita beli sapu baru haha!) atau ngerapiin barang or whatever, justru dia join team Aria yang ikut ngeberantakin juga. But I don’t mind at all. Jadi gue pun ada yang dikerjain berhubung gue juga udah nggak kerja lagi. Lagian apartemennya juga kecil dan nggak segede rumah di Thailand dulu, jadi masih cincay laaah!

Kalo buibu di rumah gimana? Suaminya mau bantu-bantuin juga nggak atau punya ART? Terus kalo punya ART, masih ikut bebersihan rumah lagi nggak? Jadi kepo gue. Sharing dong, hehe.


Reading Time:

Wednesday, 11 April 2018

Drama Susu Formula
18:57 8 Comments


WARNING: Full of rant and it’s gonna be long!!!

Sejak umur 2 bulan, Aria sudah beralih dari ASI ke Susu Formula. Sebenernya, waktu itu gue cuma niat berhenti 1-2 hari doang karena puting sakit banget. Tapi waktu mau kasih ballik, Aria malah ngga mau dan lebih memilih Susu Formula (Bebelove 1). Sekarang kalo dipikir-pikir, harusnya gue paksain dan ngga mudah menyerah. Sedih sih padahal gue sebenernya mau banget bisa kasih ASI eksklusif sampai Aria berumur 2 tahun.

Drama SuFor pun dimulai. Awalnya bermula dari mau pilih susu apa. Jujur gue merasa bersalah karena cuma bisa kasih ASI sebentar banget padahal persediaan ASI gue termasuk banyak, makanya gue pun mau ngasih susu formula yang terbaik. Dan otomatis gue mikirnya yang paling mahal itu yang terbaik. Betul nggak? Atau gue doang?

Nah, suami gue punya pendapat lain. According to him, susu formula nggak mesti yang paling mahal. Masih ada kok susu formula yang lebih murah dan kualitasnya nggak kalah bagus. Perhitungan Mamat, Aria kan pasti banyak konsumsi susu dan dari segi biaya pasti nggak murah. Daripada nanti Aria udah terbiasa dengan susu itu tapi kita pas lagi nggak punya uang, masa langsung mau ganti susu yang lebih murah begitu aja? Gue pun mengalah dan akhirnya kita memilih Bebelove 1. Padahal jujur dalam hati gue masih dongkol, karena gue tahu gimana borosnya dia kalo uda keluar. Sempat gue mengutarakan keberatan gue soal beli susu yang agak mahal dikit dan jawabannya cuma, “Ya udah lo yang cari duit buat beli susunya tiap minggu.” Gue pun memilih diam daripada entar jadi berantem di tempat umum. Dalam hati sih gue cuma ngedumel. “Awas lo ya ntar kalo gue punya duit sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, kita pindah ke Manila dan drama pilih susu dimulai lagi. Sejauh pengamatan kita dimana-mana, Enfamil / Enfagrow selalu yang paling mahal. Jadi gue pun lebih condong ke merk ini (emang dasar gue korban Marketing juga!) Tapi setelah nego-nego kita akhirnya memilih Nan no.2 dari Nestle. Drama berikutnya soal beli pack yang berapa gram. Karena waktu itu Aria masih full konsumsi susu terus, menurut gue 900 gram itu nggak bakal cukup untuk seminggu. Amannya gue mau beli yang gede sekalian, which is 1800 gram dan harganya hemat 25% daripada beli 2 pack yang 900 gram. Again, menurut laki gue itu such a waste of money. Karena sistem gaji laki gue itu mingguan jadi maunya dia pengeluaran juga sesuai kebutuhan mingguan. Pengalaman yang sudah-sudah, pas mepet-mepet akhir minggu, uang udah pada abis. Nah terus kalo cuma beli yang 900 gram terus susu Aria abis, masa mau dikasih air tajin?? Dan lagi-lagi gue kalah suara dan mengalah.

Nggak berapa lama, gue pun dapet part time job. Lumayan kerjanya cuma Selasa dan Kamis terus dari jam 9 sampai jam 1 siang. Bayarannya sebesar 100 dolar per minggu terus bos gue pun yang nyediain nanny buat Aria dan dia bayarin pulak! Pas dapet gaji pertama, gue langsung beli itu susu 1800 gram idaman gue dan langsung gue pajang dengan bangga di meja makan, muahaha!

Anyway berlanjut lagi. Sekitar 6 bulan kemudian kita harus pindah ke Bangkok. Sedih juga sih harus ninggalin Manila dan temen-temen yang ada di sana but life goes on, new adventures begin. Begitu sampai di Bangkok, langsung deh kita ke Tesco yang ada di On Nut dan mulai drama susu formula. Waktu itu, Aria udah gedean dikit sekitar 8 bulan jadi dia pun mulai makan MPASI dan konsumsi susunya agak dikurangin (lumayan ngeringanin biaya sedikit). Nah di sini akhirnya gue bisa menang memperjuangkan susu Enfalac Gold buat Aria. Argumen gue sih karena konsumsi susunya berkurang dan gue juga akan mulai kerja lagi, which means I could pay for it. Sekarang giliran Mamat yang dongkol dan akhirnya gue dapet susu idaman gue. Harga susunya sekitar 459 baht untuk 550 gram. Dalam hati gue, “Akhirnya Nak perjuangan Mommy ngga sia-sia.” (lol!)

Mendekati umur Aria 1 tahun 3 bulan, Bapaknya mulai google-google kalo Aria sudah bisa dikasi susu sapi biasa atau belum. Emang dasar gue Ibu SuFor garis keras, gue nggak setuju. Setelah berdebat panjang dan disertai anger tears, akhirnya kita ketemu di tengah-tengah. Aria dikasih susu sapi (we chose Meiji milk, harganya 49 baht untuk 1 liter) waktu dia mau tidur siang dan susu formula di waktu malam.

Untungnya sejalan dengan Aria yang udah mulai gede, gue juga mencoba lebih santai untuk urusan susu mensusu ini. Toh sejauh ini Aria juga sehat, nggak ada alergi susu macem-macem. Malah sekarang suka dikasi susu yang bermacem-macem rasa. Untungnya transisi susunya juga ngga ribet, pup-nya normal. Dan gue pun lebih relax.

Satu mingguan ini setelah balik ke Jakarta, Mamat mau susu formula yang agak mahalan sedikit, at least di tengah-tengah. Malah gue yang gantian mau ngasih ngelanjut Bebelove lagi. Tapi kita akhirnya milih Nutrilon Royal. Awalnya coba Nutrilon yang biasa tapi harganya ngga jauh beda. Sementara untuk susu tidur siangnya, pertama kita coba susu UHT Ultra Milk tapi bapaknya ngga doyan. Lanjut cobain Cimory masih ngga doyan juga (gue heran ini siapa sebenernya yang minum) dan akhirnya gue mutusin untuk beli susu kalengan yang 180an gram dari Bear Brand.

Oiya, lupa cerita. Awal-awal pindahan ke Manila, karena katanya transisi susu itu penting kita ampe memboyong berkotak-kotak susu Bebelove untuk transisi susu Aria yang katanya butuh waktu lama. Tapi lama-lama, kita malah cuek langsung ganti susu begitu aja karena Aria bisa cocok semua.

Gue penasaran Ibu-ibu di luaran sana pertimbangan mereka memilih susu buat anaknya apa sih? Ada yang seribet gue nggak sih? Gue tahu gue cuma ibu-ibu awam yang bukan expert beginian tapi pertimbangan gue selalu maunya untuk memberikan anak yang terbaik buat anak gue. 

By the way  belajar dari pengalaman, buat the next baby gue harus sabar dan fight buat bisa kasih ASI selama mungkin. Syukur-syukur bisa sampe 2 tahun. Ampun deh gue kalo disuruh drama beginian lagi ama Mamat.



Reading Time:

Friday, 6 April 2018

Bule dan 'Jumat'
08:07 4 Comments

Gue inget dulu waktu jaman masih single dan kerja, hari Jumat itu rasanya sakral banget. Setiap baru buka mata di Jumat pagi pasti sudah berasa banget 'aura'-nya itu beda. Bahkan buat orang-orang yang masih harus masuk kerja di hari Sabtu pun tetep bisa ngerasain bedanya aura hari Jumat, ya nggak?

Kebanyakan orang yang gue kenal memilih menghabiskan Jumat malamnya dengan nongki-nongki cantik. Begitu juga gue dulu. Pulang kantor, siap-siap and ready to paint the town red.

Semenjak jadi emak-emak, of course I don't have that kind of luxury anymore. Mau nongki-nongki cantik pun ngga bisa tenang karena pasti kepikiran rumah. Selera gue atau bagaimana gue lebih memilih menghabiskan hari Jumat pun berubah. Ada kalanya gue mau keluar atau makan 'mewah' dikit dibandingin waktu weekday. But most of the time, I'd prefer to stay home, put Aria to bed early, read a book and just relax.

Lain halnya dengan Mamat. Karena biasanya hari Jumat itu dia gajian, kaki dan pikirannya langsung gatel mau keluar dan itu selalu. Bahkan sebelum hari Jumat, dia sudah mulai research mau kemana. Iya, dia segitu excited-nya! Suami gue itu emang kakinya gatel. Kalau ada uang dikit, pasti bawaannya mau keluyuran.

Next, bule dan birnya. Definisi 'keluar' buat Mamat itu adalah sit somewhere and drink beer.  Kayaknya uda anggepan umum kalau orang 'bule' ngga bisa lepas dari bir atau alkohol. Gue enggak bermaksud meng-generalisasi, buktinya ada kok temen bule gue yang ngga minum atau ngga gegilaan dengan alkohol tapi emang kebanyakan yang gue temuin dan temen-temen Mamat yah gitu, pulang ngantor langsung ngebir. Bilangnya sih emang, "have a pint/beer", tapi ujung-ujungnya pulang dengan mata sepet setengah a.k.a mabok.

The thing is, kalau dia biasa aja (which means ngga gegilaan), gue mah cuek. Selama dia ngga melalaikan tanggungjawab dia sebagai suami dan ayah. Karena admit it deh, lifestyle kayak itu tuh ngga murah. Berhubung kita masih jutawan Rupiah (belagu banget gue,lol!), bukan jutawan Dolar dampaknya ke keuangan kita pun berasa banget. But, I will talk about this in another time.

Nyatanya, Mamat bisa men-dewa-kan kebiasaan minumnya ini dan ini yang buat gue geram.  Yang ngebete-in itu kalo kita kadang harus makan di tempat dimana mereka menyajikan bir. Untungnya ada yang masih bisa gue syukuri, yaitu dia bukan alcoholic akut jadi masih bisa dikontrol. 

Anyway, kadang Jumat gue pun jadi menyebalkan gegara udah mau ngaso-ngaso nidurin Aria cepet, eh, masih ada bayi tua yang harus diurus lagi. And believe me, Mamat kalo uda mabok lebih ribet daripada ngurusin bayi yang baru lahir dan lagi sakit. 

Para Ibu-Ibu atau Istri-istri yang ngalemin kayak gue, sabar-sabar aja dan banyak doa ya. Gue sendiri pun percaya Mamat pasti berubah. Gue selalu doa dan percaya. Ini juga alasan kenapa gue buka-bukaan tentang kehidupan rumah tangga gue di blog. Karena gue percaya suami gue bisa berubah dan gue mau sharing bagaimana prosesnya. Mungkin ngga sekarang, mungkin ngga dalam bulan depan atau tahun depan but he will. Because after all, nothing is impossible.


Reading Time: