Mrs Bule

Thursday, 14 June 2018

Kenapa Suka Bule? #storytime
20:230 Comments

Bukan sekali doang gue ditanyain kenapa suka bule. Aduh, kalo ditanya gitu biasanya jawaban gue cuma, "Eh, nggak tahu ya. Abis beda sih." Setelah dipikir-pikir, jawabannya kok agak rasis juga yak.

Banyak wanita Indonesia yang memiliki pasangan orang asing, entah karena emang preferensinya begitu atau yah emang uda jodohnya. Ketemunya pun macem-macem, ada yang dari online maupun offline. Mamat dan gue ketemunya sih offline, nggak ada meet-cute atau apapun itu lah yang kata orang-orang. Menurut gue sih biasa aja, tapi kalo kata Mamat ada firework (ceileh!)

Karena sering ditanyain, gue pun akhirnya mulai mencari-cari apa akar awalnya gue bisa tertarik ama bule. Mamat emang bukan pacar bule pertama gue dan gue pun pernah kok pacaran dan tertarik sama orang Indonesia. 

Direct encounter pertama gue sama orang bule itu yang paling gue inget adalah waktu SMP. Jadi ceritanya gereja gue mengundang suami-istri missionaries dari Amerika yang ikut memboyong kedua anak cowok mereka selama seminggu ke Bengkulu. Namanya masih ABG belagu, waktu ngeliat mereka gue mikirnya, "Dih, keren nih gue kayaknya kalo gue bisa ngajak ngobrol mereka. Pasti pada sirik nih." (Haha!) Tapi serius itu yang ada di pikiran gue. Ujung-ujungnya gue malah baru berani waktu mereka udah mau balik lagi. Gue lupa ngomong apa tapi yang pasti belepotan banget Inggrisnya. Akhirnya gue bisa ajak ngobrol dan dapet alamat email-nya juga. Dih, bangga banget gue waktu itu, sempat juga email-emailan beberapa kali tapi that's it. Kalo diinget-inget kayaknya gue lebih mendekati stalker deh. Bawaannya kayak orang lagi jatuh cinta,lol! Dasar ABG labil!

Anyway, setelah dirunut-runut gue pun menyimpulkan kenapa gue bisa suka sama bule itu karena nyokap. Gimana nggak kalo gue dari kecil uda begadangan nonton film Steven Seagel, James Bond (jaman Pierce Brosnan tuh), Titanic, Indiana Jones dan film barat lainnya di RCTI. Ngeliat gimana heroik dan romantisnya para lelaki kulit putih itu, siapa yang nggak kesengsem. Walaupun tanpa direncanakan untuk nikah sama orang Inggris, gue selalu menganggap kalo aksen Inggris itu seksoy.

Memang sih ada banyak alasan lainnya kenapa gue suka bule tapi kalo ditanya awalnya kenapa, cuma ini yang bisa gue pikirkan. Pada akhirnya, yah, kalo jodoh nggak kemana, hehe.


Reading Time:

Tuesday, 12 June 2018

Istri Bekerja Atau Tidak?
22:050 Comments

Jujur kadang gue suka kangen kerja kantoran lagi. Dulu gue sempat jadi Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Walaupun tekanan dan work load nya berat apalagi mendekati waktu lapor pajak dan akhir tahun, gue menikmatinya. Bahkan sekarang gue suka kebayang-bayang buat Working Papers, kotak-katik Excel, grasak-grusuk dokumen dan sebagainya. Dulu gue selalu menganggap kerjaan Auditor ini kayak jadi detektif which is impian gue banget dari sejak suka baca seri Lima Sekawan-nya Enid Blyton.

Mamat pun sebenernya ngijinin kalau gue mau kerja biar gue juga bisa punya uang sendiri. Dia pun enggak menuntut gue harus bekerja atau enggak. Cuma yah biasalah kadang kalo lagi alot berantem suka kelepas omongan 'cari duit sendiri'. Biasanya omongan enggak enak gini keluar kalo dia lagi mumet, full of pressure terus gue mulai nagging minta ini-itu buat Aria, imunisasi dan lain-lain. Ini sih sebenernya bukan alesan utama kenapa gue mau kerja tapi secara engga langsung mempengaruhi keputusan gue buat mau cari uang sendiri. Well, you know...ego.

Tapi kalau pun gue kerja, gue enggak mau kerja kantoran atau yang bakal sering ninggalin anak apalagi anak masih kecil karena gw mau 'around' di saat anak gue bertumbuh. Jadi kalaupun mau ambil kerjaan, ya yang bisa dilakukan dari rumah. Nggak mesti kerja yang gaji gedelah, cukup untuk tambah-tambah uang jajan, toh Mamat masih mampu memenuhi kebutuhan kita.

Anyway, salah satu youtuber kesukaan gue Pita's Life pernah bahas soal suami yang penuhi kebutuhan keluarga dan istri (Pita) memilih bekerja untuk memenuhi keinginan dia sendiri, jadi nggak perlu minta-minta suami. Gue sih setuju begini. Dulu pernah random talk ama sepupu gue yang sudah menikah dan intinya, 'uang suami, uang istri. Uang istri, ya uang istri.' Waktu itu sih kita ketawa aja tapi kalo sekarang gue pikir-pikir kok egois ya? Emang sih enak buat si istri jadi kalau mau beli apa-apa jadi bebas walau mungkin kalo mau beli sesuatu yang signifikan masih ijin suami dulu. Terus bukannya uang si istri jadi untuk belanja-belinji juga, gue pribadi masih ada simpanan duit sendiri yang gue pisahin dari Mamat. Selain itu juga misalnya gue bisa beli barang yang gue mau seperti handphone terus suami nggak bisa ambil balik hp itu kalo lagi berantem dengan alesan 'kan gue yang beli' (curcol, lol!)

Jadi intinya istri memilih bekerja untuk mengaktualisasikan dirinya atau memberi value pada dirinya sendiri dan dia bisa bangga dengan dirinya sendiri juga.

Nah, kalau memotivasi diri dengan bisa beli barang yang kita mau dari uang sendiri, ending-nya ini jadi drive istri untuk semangat cari uang atau malah jadi nggak bakal punya apa-apa (I mean like shopping spree) ? Kalo dalam kasus gue sih malah bisa berakhir enggak kesampaian buat beli buku-buku incaran gue dong. Jadi blessing or curse nih?

Anyway, kalo udah punya penghasilan sendiri, ikut bantu memenuhi kebutuhan keluarga juga nggak? Gue sih nggak masalah ya, justru bangga karena seriously kebutuhan keluarga apalagi kalo udah punya anak itu enggak ada habis-habisnya. Beneran deh.

So the point is istri bekerja itu bagus asal jangan sampai ngelunjak terus belagu sampai step on hubby's head juga. Durhaka itu mah.


Reading Time:

Tuesday, 22 May 2018

Random Thought #1: Suicide
17:410 Comments

I just finish watched 13 Reasons Why and it got me thinking about suicide. Not that I want to kill myself but about the suicide itself.

Suicide is a choice. Their choices. Yes, it can be triggered by somebody else and people around them. But you can't blame other people for the choices that you make. You can not expect people to be what you're expecting. Sometimes people just a jerk, sometimes they just weak or sometimes they just afraid. So what? Don't put your life on jeopardy because of them. You have so much worth than that. Life is hard and so is people.

There is also people who choose to kill themself because they can't handle it anymore. Because they feel it's enough. Because they want a schortcut. And you can't blame them for that too. Feeling and emotion are complicated things.

One thing that I know for sure is that people who kill themself is someone who needs help.  It makes me to be more aware of people around me. They might look well, look alright but we don't know what they feel inside. They might want to scream for help but couldn't open their mouth. So, please be care.

In this matter of time, people tend to be careless. When someone they know killl themself, they will just say 'it's tragic' and then life goes on. I agree, life still can go on but it is not pathetic when you know that there is a slight of chance that you can help if you care just a little? If they still decide to do it, at least you know that you have try.

And people who finally to decide to suicide, I can't help to not judge that you are selfish. How can you not think about how people who love you that you left behind? You might think that no one care eventhough you kill yourself but nobody in this world whose not loved. You were not just came out from a turnip, were you? And don't get me started from religion point of view.

The point of this random thought is please be care, people!


Reading Time:

Tuesday, 15 May 2018

Raising Kid Without Nanny #Anak1
18:02 2 Comments

Salut deh sama ibu-ibu yang bisa sampai urus empat anak tanpa bantuan Nanny dan sambil bekerja pula. Itu gimana ya kok bisa dan nggak gila? Gw baru punya anak satu aja kadang rasanya mau nyerah pake Nanny. Apalagi tinggal jauh dari keluarga yang nggak bisa curi-curi buat nitip. Selama ini kita pake Nanny baru satu kali dan nggak sampai 2 bulan. Itupun part time karena gw juga harus kerja part time. At that time, Aria baru sekitar 6 bulanan kalo nggak salah dan masih belum kenal orang.

Sekarang sih udah nggak pake Nanny lagi dan gw urus Aria full time. Kadang kalo Aria lagi riweh-riwehnya terus nggak mau tidur siang, gw jadi frustasi sendiri dan akhirnya malah jadi upset. Abis itu mulai deh meratapi diri sendiri kayak 'me-time gw mana??', 'gw pengen break' ,de el el, de es be. Eh, sudah itu jadi ngerasa bersalah sendiri. Kalo udah begini, gw ambil step back terus coba nyemangatin diri sendiri kayak "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian", atau reconsider kalo mau pake jasa Nanny.

Nyokap selalu mewanti-wanti gw untuk nggak nitipin Aria ke sembarang orang. Pokoknya selalu bilang jangan dan suka banget kasih gw cerita-cerita atau video seram soal perlakuan pembantu sama anak asuhnya. Mamat paling males dan anti banget denger cerita-cerita beginian. Maksudnya males karena nggak mau ngedengerin. Anyway, sebagai seorang Ibu yang baik (ceileh!), yang jelas gw ikutan jadi parno lah. Bukannya berarti gw gampang dipengaruhin atau ditakut-takutin tapi gw nggak mau menyesal di kemudian hari. Amit-amit dah. Walaupun sebenernya gw gak rela kalo Aria dititipin ke orang lain, kalau suatu saat nanti gw memutuskan pake Nanny atau nitipin Aria, at least waktu Aria udah bisa ngomong lancar jadi bisa mengadu kalo ada apa-apa.

Untuk soal Nanny, Mamat untungnya nggak pernah nuntut macem-macem untuk pake Nanny atau nggak. Dia menyerahkan semua keputusan di tangan gw dan support 100% mana yang gw anggap baik. Palingan kalo dia ragu atau worried about something, dia baru bilang ke gw.

Jadi, intinya sih selama gw masih merasa mampu untuk nggak pake Nanny dan belum ada kesibukan yang menyita waktu banget, gw merasa nggak perlu pake Nanny. Besides, nanti juga kan ada waktunya Aria mulai masuk sekolah dan mungkin akhirnya gw bisa punya sedikit me-time. *OMG, masih berapa tahun lagi itu????*



Reading Time:

Monday, 14 May 2018

About You & Me
01:290 Comments

How do you see youself and your partner in a relationship or a marriage? As an equal or one is higher than the other? Apa kedudukan pria lebih tinggi hanya karena ia yang mencari nafkah dan memberi atap di atas kepala? Apa kedudukan wanita lebih tinggi hanya karena ia yang bertanggungjawab mengurus rumah dan menghadapi semua tangis, kerewelan dan juga tawa anak? Tapi bagaimana kalau posisinya dibalik?

Gw lebih memilih untuk melihat posisi kita itu equal karena menurut gw masing-masing memiliki peranan dan tanggungjawab yang penting dalam suatu hubungan. Dalam konteks ini maksud gw adalah dalam keluarga. Nyatanya, dalam praktek nggak gitu coy! Mungkin karena ego masing-masing yang masih mementingkan egonya sendiri atau karena menganggap perannya lebih penting dari pasangannya. Nah, ini yang menurut gw bahaya kalo nggak segera ditindaklanjuti. Selama kita belum melepaskan ego pribadi, kita akan berakhir terus menuntut kepada pasangan kita. Ini yang gw pelajari dari nyokap gw. Ada benernya juga sih. Kenyataannya teori lebih mudah daripada praktek bahkan nyokap pun yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah masih suka susah untuk mempraktekannya. Moreover, setiap gw berantem ama Mamat, gw selalu mencoba untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak menuntut.

Anyway, persoalan tuntutan ego yang merasa dirinya melakukan peran lebih penting dalam pernikahan gw ini merembet kemana-mana. Dari soal keuangan, soal 'hak gw' dan 'suka-suka gw'! Seperti sekarang, Mamat merasa dirinya berhak untuk keluar nongkrong sama temen-temennya karena dia sudah bekerja dan butuh refreshing. Waktu awal-awal, ini selalu jadi bahan berantem kita tiap minggu. Emang sih dulu dia rajin bawa gw kemana-mana tapi semenjak hamil Aria, mana bisa lagi gw ikut-ikut nonkrong sampai subuh. Nah, berantemnya kita karena gw menuntut dia untuk tinggal di rumah dan menemani gw. Mamat dan kaki gatelnya mana bisa dikekang begitu. Akhirnya gw mengalah untuk kasih dia keluar sekali-sekali dan mencoba mengerti kalo dia butuh social life juga. Kebetulan semenjak hamil, gw jadi tipe rumahan yang betah aja di rumah asalkan ada internet ama buku.

Soal 'hak gw' dan 'suka-suka gw' ini emang pasti berhubungan dengan soal keuangan. Karena dia yang kerja, jadi kalo dia lagi mabok 'ini uang gw' terus kalo lagi sober 'ini uang kita'. Yang beginian nih yang buat keki.

Jujur gw akui kalo posisinya dibalik dengan gw yang jadi alpha wife dan dia jadi Bapak Rumah Tangga, gw pasti akan menuntut lebih. Gw mungkin akan merasa gw yang lebih 'tinggi' dari dia dan juga mungkin akan melihat dia lebih 'rendah'. Kedengerannya jahat banget ya tapi inilah yang namanya ego. Who knows selama ini dia juga berpikir begitu tentang gw. Tapi semoga enggak ya. Sejauh ini sih dia nggak pernah ngomong gitu ke gw tapi kadang setan-setan kecil suka ngedorong gw buat mikir yang negatif.

Pada akhirnya, siapa sih yang mau punya hubungan macam itu? Pasti nggak ada. Tapi nyatanya hasil curhat sama temen-temen lain, ada juga loh yang begitu. Hopefully ini cuma karena pernikahan yang masih berumur jagung aja. Seiring dengan berjalan waktu dan semakin lama menikah, semoga lama kelamaan bisa melepas ego masing-masing. Kan katanya gitu, pernikahan adalah proses pembelajaran yang sangat panjang. Tinggal kitanya aja yang harus kuat dan mau belajar along the way.

As a reminder, semoga nggak clash. Post ini aseli bukan berniat untuk menggurui. Ini random thoughts gw dan mau gw jadiin pengingat buat diri gw sendiri. Syukur-syukur bisa bantu saling menguatkan bagi pembaca yang mungkin juga mengalami hal yang sama.


Reading Time:

Monday, 7 May 2018

My Reading Habit Lately
09:47 4 Comments

Ada yang berubah dari kebiasaan membaca gue belakangan ini. Dulu gue paling nyaman kalo baca buku dengan posisi telungkup, tapi sejalan dengan tambah gedenya perut ini jadi udah nggak bisa lagi, hiks. Sekarang kalo baca, posisinya harus duduk atau sambil tiduran dan senderan di bantal tinggi. Ini mengakibatkan pantat gue yang kurang lemak jadi pegal linu dan belakang kepala jadi terasa berat karena banyak rebahan. Alhasil kebiasaan dan frekuensi membaca pun berkurang padahal semangat membaca masih menggebu-gebu.

Another reading habit yang gue rasa berubah adalah I can't seem enjoy the book that I'm reading. Entah itu karena posisi membaca yang lagi enggak nyaman atau karena gue lagi membaca ulang novel-novel lama atau karena get distracted. Lately gue membaca kayak lagi dikejar deadline deh. Jadi kapan ada celah waktu, entah sambil suap Aria makan atau menunggu pasti gue selipin membaca. Akhirnya untuk menyelesaikan satu buku bisa dalam too many sitting. Mungkin inilah yang mengakibatkan gue nggak engaged into the story. Seems like I have to "make time" to read. Mencoba untuk tidurin Aria lebih cepat dan duduk barang satu atau dua jam untuk membaca sebelum tidur, daripada menunggu ngantuk sambil main HP.

Terus untuk selera baca. Pada dasarnya gue pelahap semua jenis buku, walau lebih condong ke fiksi. Semenjak jadi silent reader di Bookstagram dan Booktube, gue lagi semangat dengan genre Fantasy karangan luar. Belakangan ini gue lagi semangat-semangatnya mau review buku di Blog ini, cuma bahannya nggak ada. Rasanya nggak pingin-pingin amat review buku itu-itu doang. Jadi akhirnya gue berniat untuk mencoba keluar dari zona nyaman gue dan mulai membeli atau membaca buku yang buat gue tertarik dari pick it up in bookstore, read the blurb and decide to get it or not. Jujur aja gue nggak inget kapan terakhir kali beli buku bukan karena godaan dari Bookstagram atau Booktube. Tapi bukan bearti jadi nggak akan pernah beli atau baca buku genre favorit gue, tapi untuk membuatnya lebih bervariasi. Bagus juga kali untuk isi kepala gue biar nggak ngayal-ngayal amat. So, let's see this weekend.

So, ini beberapa reading habit gue yang perlu gue tinjau ulang lagi. Hopefully I could feel better about myself.



Reading Time:

Saturday, 5 May 2018

PENANG : Winter Warmers Coffee & Tea House
11:480 Comments

Weekend minggu lalu, hampir seharian kita nge-mall. Anak Metropolitan banget nggak sih, hehe. Kali ini kita pergi ke Gurney Plaza yang lokasinya kurang dari 2 km dari tempat kita tinggal. Setelah makan siang di Nando's lalu dilanjutkan dengan acara ngider-ngider mal, akhirnya kita cari tempat untuk ngaso sambil numpang Wi Fi. Niat awalnya sih mau ke Starbuck doang tapi Winter Warmers yang ada di sebelah Starbuck terlihat menggoda.





Sebelum masuk, kita mengintip dulu buku menunya yang cantik banget dan kita memutuskan kalau harganya masih terjangkau. Selain itu, konsepnya yang mau afternoon tea gimanaa gitu. Waktu masuk ke dalam, duh, cozy banget. Walaupun tempat duduknya agak kurang nyaman tapi ambience-nya oke punya. Dari taplak meja, wallpaper yang menurut gue cute  tapi juga nggak norak. Yang paling gue suka adalah pajangan berset-set teko dan cangkir teh yang menutupi satu sisi dindingnya. Eh, ternyata tea sets ini untuk dijual juga loh!

Kali ini berhubung kita masih kenyang karena sisa makan siang tadi, kita pun hanya memesan menu paket Cream Tea-nya dengan 1 poci Black Tea yang Earl Grey dan 2 scones. Waktu pesanan datang, Mamat cuma komentar, "Ini scones terkecil yang pernah gue makan". Sementara gue cuma komentar dengan harga 20 ringgit, what do you expect? Padahal sebenernya ini pertama kalinya gue makan scones jadi gue emang no expectations haha. Gue ngikutin Mamat gimana cara makan scone yang bener dan ternyata caranya adalah dibelah 2 di tengah-tengahnya terus diolesi cream dan blueberry jam (could be any jam). Oh iya, mereka juga menyediakan homemade jam dan scone nya masih anget dan enak banget, juga lumer di mulut.



Anyway, sebenernya gue nggak bisa membedakan macam-macam teh kecuali rasa dan baunya kentara banget but I always take my tea as sweeter as it can  be and a little bit of milk. Sayangnya karena gula mereka dikasih dalam paper sachet jadi teh gue pun rada-rada berasa kertas, hiks. Sementara Mamat, si orang Inggris tulen, takes his with just a little bit of milk and without sugar. 

As for Aria, disini mereka punya baby chair (penting banget ini buat gue bok!) dan gue sempat ngasih coba scone lengkap dengan cream dan selainya yang ternyata dia suka.

Jadi kesimpulannya, walau makanan dan minumannya termasuk not bad tapi buat gue Winter Warmers lebih menang ke ambience-nya. Meski agak-agak suram tapi buat betah kok!



Winter Warmers Coffee & Tea House:

Plaza Gurney, 170-g-38, Gurney Dr, 10250 George Town, Georgetown
Penang, Malaysia
Reading Time: